Ikhfan Yusuf

Pahitnya kopi memberiku inspirasi, pahitnya hidup memberiku representasi realita.

Tentang Budaya Mencontek

tentang budaya mencontek
ilustrasi mencontek
Mecontek rasanya bukan hal yang asing lagi bagi pelajar abad ini ya. Entah mengapa perilaku mencontek seolah membudaya dalam lingkungan belajar negeri kita ini. Apa sebenarnya yang salah?, Siapa yang harus disalahkan?, guru atau siswa?. mari kita bahas artikel tentang mencontek dalam tulisan ini.

Kenapa sih ada rasa ingin mencontek?

Oke, kita mulai dengan pertanyaan mengapa ada rasa ingin mencontek dalam diri?. Ya tentunya faktor utama yaitu tentang nilai yang akan didapatkan, namun sadarkah ada hal lain selain itu?. Ya faktor gengsi yang merujuk pada kesamaan nilai atau lebih tinggi dari nilai teman juga menjadi penyebab rasa ingin mencontek ini datang.

Siapa sih yang dirugikan?

Lalu, dari mencontek ini siapa sebenarnya yang dirugikan?, si tukang contek atau sumber tukang contek?. Nah, dalam hal ini kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.

  • Sisi Formalitas

Pertama kita lihat dari sudut pandang formalitas. Oke kita sebut dua kubu ini yang satu pencontek dan yang satu si jujur(sumber contekan).
Kalau dari sisi ini jelas yang dirugikan yaitu si jujur.

Bagaimana tidak, si pencontek yang tidak belajar dan usahanya hanya memikirkan strategi untuk bisa mengelabuhi pengawas demi mendapat jawaban dari si jujur kadang mendapat nilai yang sama atau bahkan lebih tinggi dari si jujur. Tentunya ini sangat merugikan si jujur yang sudah mati-matian belajar demi memperbaiki nilai yang akan tertera di kertas ulangan.

  • Sisi Hukum Alam

Yang kedua mari kita lihat dari sisi hukum alam. Nah, kalau kita lihat dari sisi hukum alam jelas yang akan rugi adalah si pencontek, loh kok bisa berbanding terbalik?. Karena ketika nanti mereka menjadi manusia dewasa, mereka akan dituntut alam untuk survive dikerasnya kehidupan yang nyata.

Katakanlah dalam bidang pekerjaan, dari dulu hingga sekarang yang dibutuhkan dalam dunia kerja adalah skill atau kemampuan. Jelas, si pencontek hanya punya sediit skill atau bahkan tidak mempunyai skill sama sekali, mengapa?.
Ya, karena pada masa si pencontek belajar, mereka tidak akan tau apa itu sebab akibat dari suatu permasalahan, yang mereka tahu hanyalah menyalin jawaban teman dan selesai.

Jikapun nanti si pencontek bisa mendapatkan pekerjaan dari ijazah hasil menconteknya itu, mereka akan kesulitan dalam menjalani pekerjaannya karena skill yang mereka miliki tidak sesuai dengan ijazah mereka.

Siapa yang salah?

Oke, kita masuk ke pembahasan terakir. Jadi, sebenarnya siapa yang harus di salahkan dari terciptanya budaya mencontek ini?. Saya tidak akan berpihak pada satu kubu, dua-duanya saya salahkan.

  • Pengajar

Pertama dari pengajar. Ya memang pengajar selalu meneriakan kata "Kejujuran Lebih Baik Daripada Nilai", namun fakta di lapangan apa?, nilai lebih di hargai daripada sebuah kejujuran.

Memang saya akui, sulit untuk memilah mana yang jujur dengan yang tidak jujur karena memang perbandingan jumlah pengajar dengan murid jauh berbeda. Namun, seyogyanya pengajar harus lebih bijak dalam menyikapi kata-kata tersebut.

  • Siswa

Yang kedua dari sisi siswa. Pemikiran siswa harus diubah, pemikiran jangka pendek akan mambuat mereka terjerumus pada aktivitas mencontek ini. Namun berbanding terbalik dengan pemikiran jangka panjang.

Ketika siswa memikirkan bagaimana nanti bertahan dalam dunia kerja yang sebenarnya, mereka akan cenderung berpikir tentang sebab-akibat bukan hanya tentang menyalin jawaban teman.

Lalu tentang gengsi. Sebagai seorang siswa janganlah hanya memikirkan gengsi tentang nilai. Okelah sekarang kamu kelihatan pintar, tapi nanti ketika kamu masuk dunia kerja?, hukum alam akan berbicara. Apakah mau nanti pas masuk dunia kerja kamu dianggap sampah karena tidak memiliki skill?.

Tentu tidak kan, so... gengsi yang kamu tanam selama ini untuk meningkatkan derajatmu di mata masyarakat akan hilang seketika saat kamu masuk dunia kerja. Lain halnya jika kamu tidak memikirkan gengsi dan fokus pada mengasah kemampuan diri, derajatmu akan naik sendiri di mata masyarakat bahkan sampai pada dunia kerja nanti.

Kesimpulan

Kesimpulannya, mencontek itu hal yang buang-buang waktu. Bagaimana tidak kamu sekolah 12 tahun(wajib) dan kamu ngga punya skill apa-apa, apakah itu bukan buang-buang waktu namanya.

Mungkin hanya sedikit tulisan di atas yang bisa saya sampaikan tentang budaya mencontek. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, jika kamu punya pendapat sendiri juga bisa kamu sampaikan melalui kolom komentar di bawah.

Maafkan saya apabila terdapat kata-kata yang menyinggung dari tulisan di atas, semoga bermanfaat. Terima Kasih.

No comments

Post a Comment