Ikhfan Yusuf

Pahitnya kopi memberiku inspirasi, pahitnya hidup memberiku representasi realita.

Bersandarlah pada Bahu Ini Saat Kita Bertemu

Saat hati sudah memilih, tak akan ada beban dalam sebuah perjuangan. Memperjuangkan dia yang entah di mana, sedang apa, bersama siapa adalah tentang bagaimana kita percaya dan bagaimana kita bisa dipercaya. Tak sulit percaya dan memberikan kepercayaan ketika hati sudah memilih.

Bersandarlah pada Bahu Ini Saat Kita Bertemu
Origina image from pixabay.com
Selalu takut jatuh hati, namun siapa kita? Kita bukanlah pemilik hati, kita hanyalah makhluk yang dititipi hati, bahkan kita sendiri tak bisa mengendalikan hati hanya untuk sekedar mengurangi rasa. Beribu kisah yang aku jalani, hanya sekian yang dapat kumengerti. Kisah rasa tak pernah aku mengerti, seakan semua berjalan tanpa logika.

Tulisan ini bukan sekedar tentang bahu, melainkan bagaimana aku menyamankan bahu ini untuk bersandar, membiarkan bahu ini kosong untuk menunggu, dan menjaga perasaan ini hanya untukmu. Aku selalu takut, ada bahu lain yang lebih nyaman untuk bersandar, itulah mengapa aku kadang hilang rasa percaya. Dan kau pasti tahu apa yang membuat rasa percaya kembali lagi dalam diri ini.

Menanti untuk bertemu adalah sebuah perjuangan, bukan perjuangan rasa melainkan perjuangan cara. Ketika perjuangan rasa mampu dilalui, tinggal bagaimana aku bisa menemuimu, mungkin di suatu tempat, pada suatu masa?  Aku tak bisa menjawabnya, biarlah misteri Tuhan yang akan menjawab bagaimana kita akan bertemu nanti.

Percaya sudah sepenuhnya aku berikan
Bertatap mata adalah mimpi yang ingin aku wujudkan
Menua dan menuliskan bersama kisah kita adalah harapan kepada Tuhan, Namun takdir adalah misteri dari suatu kepastian.

Kau jauh...perlu perjuangan untuk sekedar mewujudkan mimpi bertatap mata denganmu. Namun terkadang aku sadar aku siapa dan engkau siapa, ketakutanku adalah jika ternyata engkau tak ingin aku perjuangkan atau sekedar bertatap mata. Tapi aku tetap ingin mewujudkan mimpiku untuk suatu saat dapat bertatap mata dan memberikan bahu kosong ini sebagai tempatmu bersandar.

Bersandarlah pada bahu ini saat kita bertemu nanti, karena aku telah membiarkan bahu ini kosong hanya untuk menunggu kita bertemu. Dan apabila Tuhan tak merestui pertemuan kita, biarkan bahu ini rapuh dan patah diterpa masa.

No comments

Post a Comment