Ikhfan Yusuf

Kesia-siaan adalah saat kau terus berpikir namun tak pernah berjalan.

logoblog

Perbedaan Kehidupan di Kota dan Desa

Berbicara tentang kehidupan di kota, sebagian besar orang menganggap hidup di kota lebih enak daripada di desa. Mereka menganggap hidup di kota itu apa-apa enak, penghasilan besar, mau apa-apa ada, hidup serba enak lah pokoknya. Itu semua benar, benar di pandangan mereka, nyatanya tidak seperti yang mereka bayangkan. Memang persepsi mereka tentang hidup di perkotaan itu tak sepenuhnya salah, hidup di kota memang serba ada. Namun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tentunya tidak semudah yang dibayangkan, dan yang pasti hidup kita belum tentu enak seperti yang mereka lihat.
Perbedaan hidup di kota dan desa

Salah satu yang menjadi perkara yang mesti dipertimbangkan ketika berbicara kehidupan di kota adalah biaya hidup. Biaya hidup di perkotaan jauh lebih mahal daripada di desa(pulau jawa). Tentunya hal itu yang harus dipertimbangkan ketika kamu berpikir bahwa hidup dan kerja di kota itu upahnya besar. Selain biaya hidup, apa saja si perbedaan hidup di desa dengan di perkotaan? Langsung saja simak di bawah ini.

7 Perbedaan Kehidupan di Perkotaan dengan Desa

1. Suasana

Yang paling terasa perbedaan kehidupan di kota dengan desa adalah suasananya. Suasana perkotaan jauh lebih sumpek dan riuh daripada di desa. Misalnya saja dari segi temperatur dan udara.

  • Temperatur/Suhu

Temperatur atau suhu udara di perkotaan jauh lebih panas daripada di desa-desa. Penyebabnya tidak lain ya karena permukiman di kota yang cenderung lebih padat daripada pedesaan. Oleh karena padatnya permukiman maka ruang-ruang hijau di perkotaan pun sedikit. Pohon-pohon besar sangat sedikit, paling hanya di pinggir-pinggir jalan, sedangkan yang didekat-dekat rumah hanya pohon-pohon kecil saja, atau bahkan malah hanya pohon-pohon hiasan.

  • Udara

Selain temperatur, kualitas udara di perkotaan pun buruk. Hal itu disebabkan karena banyaknya jumlah kendaraan yang berlalu lalang sehingga menyebabkan polusi udara. Bahkan kalau di daerah Ibu Kota Jakarta kalau dilihat dari lantai atas gedung biasanya dikejauhan terlihat seperti kabut, namun kabut tersebut bukanlah kabut pagi yang sejuk seperti di desa, melainkan kabut akibat polusi kendaraan.
Kualitas udara yang sudah buruk diperparah dengan padatnya permukiman penduduk. Permukiman yang sangat padat menyebabkan tidak ada ruang di antara satu rumah dengan rumah lainnya(menempel). Hal itu membuat udara segar benar-benar sangat minim, pokoknya sumpek lah, that's so bad.

2. Kemudahan

Nah yang kedua ini mungkin merupakan nilai plus dari hidup di perkotaan. Yup betul, kemudahan. Hidup di kota memang apa-apa serba dimudahkan tapi yang pasti harus ada uang biar mudah hehe. Kita ambil contoh dari segi transportasi, pelayanan masyarakat, dan makanan.

  • Transportasi

Hidup diperkotaan tidaklah sulit untuk bepergian ketika kita tidak ada kendaraan pribadi, mengapa? Karena sangat banyak pilihan transportasi umum diperkotaan, mulai dari transportasi yang disediakan pemerintah seperti bus transjakarta(wilayah jakarta dan sekitarnya), tranjogja(wilayah jogja), komuterline, ada juga yang terbaru, tapi wilayah tertentu saja yaitu MRT(btw saya juga tidak tahu jalurnya hahaha). Kabar gembiranya transportasi umum yang disediakan pemerintah biayanya sangat murah.
Selain transportasi umum pemerintah di atas juga ada transportasi umum berbasi online seperti ojek online, taxi online dan lain-lain. Walaupun transportasi umum berbasis online juga sudah meluas ke daerah pedesaan namun belum menyeluruh.
Sedangkan transportasi umum di pedesaan biasanya hanya angkutan umum dan ojek konvensional. Oleh karena itu dari segi transportasi umum di perkotaan jauh lebih dimudahkan daripada di desa.

  • Pelayanan Masyarakat

Pelayanan masyarakat di kota lebih dimudahkan karena sekarang apa-apa serba digital dan online. Yang penting jangan gaptek aja ya hehe, semua pasti mudah. Lagi-lagi walaupun pelayanan masyarakat secara digital dan online juga sudah masuk ke desa-desa namun belum menyeluruh.

  • Makanan

Hah apa maksudnya makanan? Maksudnya untuk mendapatkan makanan jenis apapun di kota jauh lebih mudah daripada di desa. Tinggal pesan secara online dan makanan pun sampai ke rumah. Selain itu juga makanan atau minuman kekinian juga kebanyakan buka kedainya diperkotaan daripada di desa. Yang terpenting ada budgetnya buat beli hehe(btw kalau saya si makan gorengan sama kopi hitam juga sudah bahagia :v)

3. Biaya Hidup

Seperti pada intro tulisan ini bahwa biaya hidup di perkotaan itu mahal. Dengan upah kerja yang lumayan namun biaya hidup juga mahal, rasanya akhirnya sama saja dengan hidup di desa. Misalnya saja untuk makan, kalau di desa mungkin masih ada makanan(nasi bungkus misalnya) yang harganya 5 ribu bahkan ada daerah yang bisa makan dengan uang 3 ribu.

Sedangkan di perkotaan yang saya alami makan di warteg dengan lauk yang biasa saja yang paling murah saya makan kalau tidak salah 7 ribu. Harga-harga umumnya ya kurang lebih 10 ribu untuk makan di warteg, kecuali kalau mau makan pake tempe aja mungkin agak lebih murah hehe. Mengapa saya ambil contoh warteg? Ya karena itulah tempat makan yang murah dan yang pasti saya jarang ke tempat-tempat makan kaum burjois hahaha.

4. Cara Bermasyarakat

Poin ke-4 ada cara bermasyarakat/bersosialisasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat diperkotaan tidak seramah masyarakat desa. Bagi kamu yang baru hidup di kota mungkin akan menganggap banyak orang sombong karena untuk senyum saja susah. Namun hal itu sudah biasa bagi masyarakat perkotaan. Ketika saya pulang kampung saja rasanya lebih nyaman, karena masyarakat di desa saya ramah-ramah sekali.

Masyarakat di perkotaan pun cenderung egois, urusanmu ya urusanmu, urusanku ya urusanku. Ada sisi baik buruknya dari keegoisan tersebut. Sisi baiknya tidak gampang ikut campur urusan orang, sisi buruknya budaya gotong royong sebagai ciri khas masyarakat Indonesia mulai pudar.

Kendati begitu, tidak semua masyarakat perkotaan punya sikap yang acuh. Tidak sedikit juga masyarakat perkotaan yang ramah senyum, peduli sesama, dan suka tolong menolong.

5. Mata Pencaharian

Selanjutnya adalah dari segi mata pencaharian. Seperti kita ketahui rata-rata mata pencaharian masyarakat desa adalah bertani atau berkebun. Namun itu tidak berlaku di daerah perkotaan. Rata-rata mata pencaharian masyarakat perkotaan adalah kerja kantoran atau kerja di PT. Selama saya hidup di daerah kota(pinggirannya hehe)', saya jarang sekali melihat ada petani atau orang yang mau pergi ke kebun. Rata-rata yang saya lihat yang orang pake kemeja atau seragam tertentu hehe. Kesimpulanya adalah rata-rata mata pencaharian masyarakat di desa adalah bertani atau berkebun sedangkan di kota adalah kerja kantoran atau kerja di PT.

6. Infrastruktur

Poin ini si sudah pada tahu lah ya, yup tentang infrastruktur. Bangunan-bangunan di kota cenderung gedung-gedung tinggi dan megah, sedangkan kalau di desa biasanya hanya berbentuk rumah-rumah. Namun rasanya gedung-gedung yang dibangun begitu tinggi tujuannya bukn untuk bersaing seberapa tinggi bangunannya namun karena lahan yang terbatas sedangkan kebutuhan ruangan banyak sehingga dibangunlah gedung berlantai banyak.

7. Pendidikan

Nah poin terakhir yaitu pendidikan atau mungkin lebih tepatnya kemudahan pendidikan. Ya pendidikan di perkotaan jauh lebih mudah karena tidak sulit untuk menemukan buku misalnya, baik itu membeli atau dari perpustakaan sekolah. Pada umumnya perpustakaan sekolah di perkotaan lebih baik daripada perpustakaan sekolah umum di desa.
Fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan di sekolah perkotaan juga biasanya lebih baik, misalnya fasilitas lab. Namun itu semua juga kembali pada sekolahnya masing-masing. Sekolah di daerah pedesaan juga ada yang bagus dan fasilitasnya lengkap begitu juga sebaliknya, sekolah di kota ada yang fasilitasnya tidak lengkap. Namun yang saya bahas adalah secara umumnya.

Nah mungkin seperti di atas sedikit gambaran perbedaan kehidupan di desa dengan perkotaan. Yang saya tulis di atas berdasarkan pengalaman dan opini saya. Jika ada yang keliru atau kurang kalian bisa koreksi atau menambahkan di kolom komentar, terima kasih.

Related Posts

2 comments

  1. Memang ada plus dan minusnya. Apalagi di desa dan jauh dari jawa. Hadeeeeehhh mau beli buku saja susahnya minta ampun.

    Salam kenal mas, dari manokwari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gtu mas, tapi alhamdulillah saya masih di jawa jadi masih enak. Buat temen2 yg mungkin kesusahan cari buku semoga tetep semangat, selagi masih ada internet apa2 mudah hehe

      Salam kenal jg mas, saya asli Purbalingga

      Delete