Corona, Social Distancing dan Dampaknya

social distancing corona

Apa itu Corona?


Beberapa bulan terakhir Indonesia dan banyak negara di dunia sedang dibuat cemas dengan pandemi COVID-19. Dikutip dari alodokter.com, Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Inveksi yang disebabkan oleh virus ini dikenal dangan COVID-19 dan pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019.

Dampak dari COVID-19 memang tidak terlalu berbahaya untuk orang yang memiliki imun yang baik, tetapi bisa menjadi sangat berbahaya untuk lansia dan orang-orang yang memiliki riwayat penyakit berat. Penyebarannya yang masif membuat masyarakat di seluruh dunia panik. Gejala umum yang ditimbulkan akibat infeksi virus Corona ini ada 3 yaitu

  • Demam tinggi (lebih dari 38℃)
  • Batuk
  • Sesak Napas

Oleh karena gejalanya yang umum seperti flu biasa, infeksi virus ini menjadi sulit terdeteksi. Akibatnya penyebaran virus ini menjadi sangat cepat.

Dampak Social Distancing


dampak social distancing corona
image by pixabay.com
Semakin luasnya penyebaran virus Corona ini, utamanya di Indonesia, berdampak pada kegiatan masyarakat sehari-hari. Sejak saat pemerintah menerapkan kebijakan social distancing atau sederhannya jaga jarak, kegiatan masyarakat menjadi terhambat. Mulai dari yang sekadar kumpul untuk memenuhi kodrat sebagai makhluk sosial hingga kegiatan yang penting untuk kelangsungan hidup kedepan seperti bekerja, sekolah, kuliah, ibadah dan sebagainya.

Dampak Individu


Dengan diterapkannya kebijakan social distancing tentu pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab kan. Sejalan dengan kebijakan social distancing, pemerintah mengintruksikan untuk melakukan segala kegiatan dari rumah, seperti bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibdah dari rumah dan sebagainya. Jika kita melihat permasalahan hanya sampai di sini, mungkin semua akan baik-baik saja, tapi mari kita lihat permasalahan lebih jauh.

Kita semua tentu tahu, bahwa tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah, misalnya ojek online, angkutan umum, buruh kasar dan semacamnya. Akibatnya, masyarakat yang memiliki pekerjaan pada bidang yang tidak bisa dilakukan dari rumah terhambat, bahkan kehilangan mata pencaharian. Tentu pemerintah tidak boleh egois menyikapi hal ini, oleh karena itu, menurut saya pemerintah perlu menerapkan gagasan-gagasan baru yang tidak hanya berkalu untuk sebagian pihak, tetapi bisa mensejahterakan seluruh aspek masyarakat di tengah pandemi Corona.

Dampak Nasional


Selain permasalahan secara individu, permasalahan ini merambah ke sektor nasional, misalnya ketersediaan bahan pangan. Dari yang saya alami sendiri, ketersedian bahan pangan mulai langka, misalnya gula dan beras. Di tempat langganan beras yang biasa saya beli, stok jenis beras yang biasa saya beli akhir-akhir ini kosong, gula pun begitu. Sejak awal pandemi COVID-19, stok gula di supermarket sering kosong, padahal sebelum terjadinya pandemi, stok gula selalu melimpah.

Akibat dari stok pangan yang langka, harga-harga bahan pangan naik drastis. Jika kenaikan harga bertahan lama, bukan tidak mungkin pendapatan masyarakat perlu kenaikan. Apabila kenaikan pendapatan masyarakat benar-benar terjadi sedangkan harga-harga beli menjadi mahal, artinya kenaikan masyarakat hanya sampai batas nilai nominal. Akibatnya apa? Akibatnya inflasi atau penurunan nilai mata uang mungkin terjadi.

Fakta akan kemungkinan terjadinya inflasi diperkuat oleh data bahwa nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar per 11 April 2020 mencapai Rp 15.804. Menghadapi permasalahan ini tentu pemerintah perlu memutar otak lebih dalam untuk mencari solusi agar jangan sampai terjadi lagi krisis ekonomi seperti era Soeharto pada tahun 1998.

Dampak Terhadap Hubungan Makhluk dengan Tuhannya


Permasalahan yang terjadi selanjutnya adalah hubungan antara makhluk dengan Tuhannya. Dalam keyakinan saya sendiri(islam) bahwa seorang laki-laki itu wajib hukumnya untuk sholat 5 waktu berjamaah, kecuali ada uzur. Selain itu, juga ada sholat Jumat yang wajib hukumnya bagi kaum laki-laki dan bahkan ada hadist yang menyatakan bahwa jika seorang laki-laki muslim, sudah baligh, dan berakal sehat tidak melaksanakan sholat jumat 3 kali berturut-turut maka akan dianggap kafir. Nah, perihal ini menjadi masalah yang cukup membuat umat muslim was-was.

Tetapi untungnya, Indonesia ini merupakan negara dengan umat muslim terbesar, sehingga pemerintah pun punya badan khusus yang menangani permasalahan umum tentang pelaksanaan ibadah bagi umat muslim yaitu MUI(Majelis Ulama Indonesia). MUI sudah menetapkan fatwa terkait pelaksanaan ibadah umat muslim di tengah pandemi Corona. Setidaknya untuk masalah pelaksanaan ibadah secara umum, umat muslim sudah tidak perlu khawatir oleh karena fatwa MUI sudah mengatur tata cara pelaksanaanya.

Tetapi untuk permasalahan ekonomi individu dan ekonomi nasional sepertinya masih memerlukan penanganan lebih lanjut. Lalu, gagasan apa yang bisa diberikan untuk menghadapi masalah-masalah di atas? Saya tidak akan berbicara terhadap banyak hal karena ini bukan merupakan bidang saya. Analisa permasalahan di atas hanya sebatas sudut pandang yang bisa saya lihat. Oleh karena itu, gagasan-gagasan yang akan saya sampaikan di bawah pun hanya sebatas opini dari sisi sudut pandang pribadi saja.

Opini Solusi


Yang bisa saya sampaikan di sini pertama untuk permasalahan pekerja yang tidak bisa bekerja dari rumah. Pemerintah jelas perlu memperhatikan kelangsungan hidup pekerja yang tidak bisa bekerja dari rumah. Menurut saya memberi tunjangan tanpa edukasi hanya akan membuat pengeluaran negara yang berkepanjangan. Jangan salah arti, saya tidak bermaksud mengatakan penerima tunjangan itu beban.

Maksud saya adalah bagaimana agar pemerintah bisa memberi tunjangan untuk jangka waktu pendek saja. Sedangkan untuk kelangsungan hidup selanjutnya, para pekerja ini sudah mendapatkan ilmu bagaimana agar mereka bisa menghasilkan uang tanpa harus bekerja di luar rumah seperti biasanya.

Pada era digital ini, peluang untuk menghasilkan uang dari rumah bukanlah hal yang mustahil, bisa kita sebut gampang-gampang susah. Di sinilah peran edukasi ekonomi kreatif perlu digencarkan. Pemerintah perlu menggandeng para pelaku ekonomi kreatif untuk mengedukasi pekerja-pekerja yang kehilangan mata pencaharian di tengah pandemi Corona.

Sehingga diharapkan nantinya pekerja-pekerja ini bisa menghasilkan uang untuk kelangsungan hidup dari rumah. Jika harapan agar semua masyarakat bisa bekerja dari rumah benar-benar terwujud, hal ini akan berimbas pada efektifitas penekanan penyebaran virus Corona. Ketika semua orang bekerja dari rumah, tentu kegiatan di luar atau kumpul-kumpul akan berkurang, dari situlah penyebaran virus Corona dapat di tekan. Imbasnya, ketika penyebaran virus dapat ditekan, harapannya pandemi ini segera berakhir.

Untuk permasalahan ekonomi nasional, saya tidak berani beropini terlalu banyak. Mungkin hanya sedikit saran agar pemerintah lebih gencar melakukan sidak terhadap penimbun-penimbung bahan pangan. Selain itu, pemerintah juga perlu lebih mendisiplinkan setiap supermarket atau tempat penyedia bahan pangan lainnya agar memberi batasan untuk setiap pembelian bahan pangan yang langka(hal ini sudah berlaku saat ini). Pembatasan pembelian ini juga bertujuan untuk mencegah masyarakat nakal yang ingin mengambil keuntungan di tengah kepanikan, yaitu menimbun bahan pangan yang langka.

Kesimpulan

di rumah aja
image by pixabay.com
Dari keseluruhan opini di atas, ada 3 hal yang menjadi pokok permasalahan akibat social distancing yaitu permasalahan ekonomi individu, ekonomi nasional dan hubungan makhluk dengan Tuhannya. Yang seharusnya kita lakukan di tengah kepanikan pandemi COVID-19 ini bukanlah menyalahkan kebijakan social distancing, karena kebijakan itu diambil untuk mengatasi permasalahan pandemi yang sedang terjadi.

Yang seharusnya kita lakukan bersama-sama baik dari aspek masyarakat maupun pemerintah adalah bersatu dalam mencari solusi. Pemerintah dan masyarakat mesti saling memahami dalam menentukan suatu keputusan yang akan di ambil. Jangan sampai membuat suatu solusi tetapi pada akhirnya menimbulkan permasalahan baru. Sebuah solusi yang baik adalah solusi yang tidak menimbulkan permasalahan baru. 

Sekian coret-coretan saya tentang social distancing dan dampaknya. Tetap di rumah, ikuti aturan pemerintah, jaga kesehatan dan jangan lupa berdoa, sekian dan terima kasih.
Ikhfan Yusuf Bukan siapa-siapa, hanya hamba Allah yang suka nulis-nulis. Kalau kepo bisa cek Instagram @ikhfan_yusuf

0 Response to "Corona, Social Distancing dan Dampaknya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel